Rabu, 28 Agustus 2019

Sejarah Ciu Bekonang, Minumam Tradisional Raja Raja.



Satrianinewsmedia, Jateng

   Ketua Paguyuban Minumam Alkohol Tradisional Bekonang, Sabar mengatakan bahwa tradisi pembuatan Ciu di desa nya sudah ada sejak lama. Bahkan di Bekonang pembuatan Ciu juga telah diawali sejak nenek moyang mereka. 

Ciu Bekonang merupakan Minuman beralkohol yang dihasilkan dari proses fermentasi tetes tebu. Berdasarkan penelusuran sejarah minuman fermentasi tebu ini sudah ada sejak abad ke 8. Sejarawan Pantura Jawa Tengah Wijanarto menuturkan sejarah tentang minumam keras atau beralkohol tradisional  nusantara ini yakni sejak periode Kerajaan Kadiri. 

'Tepatnya saat Raja Jayakatwang menjamu Pasukan Mongol dengan hidangan minuman keras yang berdampak pada kekalahan pasukan Mongol," ucapnya. Diterangkan oleh Wijanarto ada beberapa jenis miras di Nusantara antara lain adalah CIU (Fermentasi Tebu), BADEK (Fermentasi Aren), LAHANG (di Jabar) dan Arak (Fermentasi Beras). 


Bahkan dulu di Jaman Majapahit ada tradisi penggunaan Ciu saat perayaam perluasan wilayah. Dalam Kitab Negarakertagama juga tercatat pesta bersanding miras. Tak jarang miras termasuk Ciu juga mengiringi upacara keagamaan dalam tradisi itu. 

Masa Kerajaan Kertanegara Singasari dalam persembahyangan ada arak tang diletakan di Altar. 

"Semua hidangan diletakan secara melingkar. Kekalahan Jayakatwang pun terjadi saat dia mabok pada Ritual ini, Sesuai apa yang dia lakukan terhadap pasukan Mongol," jelasnya. 

Wijanarto menerangkan pafa masalalu Jawa Tengah merajai dalam urusan minuman beralkohol tradisional, meski semua wilayah tak mempriduksinya. 


"Selain perdagangan Candu, Jawa Tengah merajai minuman tradisional ini, Jawa Tengah juga punya istilah Badek, Ciu dan Tuak," imbuh pria yang telah menulis buku buku sejarah Pantura ini. 

Beberapa daerah penghasil minuman berakohol yang terkenal sejak dulu yakni di Bekonang dan Tegal. Di Tegal ada pusat penyulingan Ciu yang legendaris (Gumayun kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal dan Tempa). Di Gumayun sudah ada sejak abad XIX, masyarakat lihai mengolah tetes tebu menjadi arak putih dengan kadar alkohol yang lumayan tinggi. 

Sedangkan di daerah Tempa di kota Tegal pusat pengolahan dengan berbagai ramuan lainnya seperti Tangkur Buaya (hewan sejenis ikan laut). Industri Ciu berkembang di kampung kampung marjinal seperti Tempa (dekat dengan Pelabuhan). 

"Selain Bekonang dan Tegal, industri Ciu dikenal sejak lama di Bamyumas yang juga memiliki kantong kantong produsen Ciu. 

"Dari Eropa orang Jawa mengenal Jenewer, dari Tionghoa mengenal Ciu dan Brangkal," tuturnya. Pada abad XIX Pemerintah Kolonial ada jenis arak yang dikenal Batavia Arrack Van Oosten. Orang Tionghoa kala itu mengajarkan Fermentasi tebu menjadi minuman beralkohol. 

Industri gula memberikan kontribusi soal ini. Munculnya produsen Ciu berkaitan dengan berdirinya pabrik gula. Seperti Bekonang yang dekat dengan pabrik gula Tasikmadu di Karanganyar, Gumayun yang dekat dengan pabrik gula Jatibarang. 








Sumber : Tribun Jateng

Editor : Singgih Satriani 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar