Senin, 12 Agustus 2019

Mengenang Kartosoewirjo pimpinan Negara Islam Indonesia yang dieksekusi mati.


Satrianinewsmedia, Jakarta

   Tepat pada 12 Syawal 1368 hijriah atau 7 Agustus 1945 yang lalu, di Desa Cisampah Kecamatan Ciawiligar Tasikmalaya, SETARMADJI MARIDJAN KARTOSOEWIRJO yang merupakan imam Negara Islam Indonesia mengucapkan sebaris kalimat berdirinya Negara Islam Indonesia yang kira kira isinya sebagai berikut :

"Kami umat Islam bangsa Indonesia menyatakan berdirinya Negara Islam Indonesia, maka hukum yang berlaku atas Negara Islam Indonesia adalah hukum Islam", kata Kartosoewirjo. Saat Indonesia baru saja merdeka dan masih terombang ambing akibat PERJANJIAN RENVILLE, Belanda hanya mengakui segelintir wilayah Indonesia yakni wilayah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatra. 


Tentara Nasional Indonesia pun di instruksikan untuk pindah dari Jawa Barat dan juga Jawa Timur ke wilayah Republik. Divisi Siliwangi di Jawa Barat pun terpaksa meninggalkan wilayahnya menuju ke Yogyakarta dan juga Solo. Kartosoewirjo pun menilai keputusan yang diambil oleh AMIR SYARIFUDIN (Menteri Agama)  saat itu sangat merugikan Republik Indonesia. 

Dirinya dan juga sejumlah laskar bersenjata menolak untuk Hijrah. Dan ditengah tengah kebimbangan karena kekosongan tersebut Kartosoewirjo memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia yang diberi nama DARUL ISLAM (DI) dan tentaranya dinamakan TENTARA ISLAM INDONESIA (TII)  yang dikenal sebagai DI/TII. 


Kartosoewirjo sebenarnya merupakan kawan Soekarno. Saat masih muda SOEKARNO, MUSO, KARTOSOEWIRJO bahkan pernah menempati kosan yang sama dirumah TJOKROAMINOTO yang berada di Surabaya Jawa Timur. Namun akhirnya TIGA SEKAWAN tersebut memilih jalan yang berbeda. 

MUSO memimpin PKI Madiun dan melawan Soekarno, Sementara Kartosoewirjo berideologi kanan dan berseberang dengan Soekarno yang merupakan sosok Nasionalis. Perang gerilya berkobar di Jawa Barat. Sejlah tokoh daerah lainnya turut mengangkat sumpah kepada Imam Kartosoewirjo. Amir Fatah untuk Jawa Tengah, Kahar Muzakar Sulawesi Selatan, Ibnu Hajat Kalimantan dan Teuku Dud Bereuh di Aceh. 

Pemberontakan yang dilakukan DI/TII merupakam perjuangan terberat yang dihadapi TNI. Tak hanya melawan Belanda TNI juga direpotkan dengan perlawanan dari DARUL ISLAM. Semua tokoh yang menentang Kartosoewirjo dianggap sebagai musuh bahkan tokoh Islam di Jawa Barat yang menentangnya juga diserang. 


Tokoh Islam yang diserang itu adalah Kyai Yusuf Tauzirie, seorang Ulama dari Garut. Ribuan gerombolan DI/TII berusaha menyerbu Pondok Pesantren Kyai Yusuf, namun sang Kyai tak ingin menyerah dan berhasil memukul mundur penyerang. 

Perlawanan DI/TII makin menjadi jadi sampai sampai Panglima Siliwangi Kolonel Alex Kawilarang merasa perlu membentuk Pasukan Khusus menghadapi gerombolan tersebut. "Misi pertama kami mengejar gerombolan DI/TII disekitar garut dan tasik", papar Anta seorang pensiunan prajurit baret merah. 

Pasukan Khusus yang merupakan cikal bakal kopasus TNI AD ini berkali kali hampir menangkap Kartosoewirjo namun berkali kali gagal karena berbagai halangan. Sang Imam itu juga memerintahkan anak buahnya untuk menghabisi Soekarno lantaran dianggap menyimpang dengan berdasar Pancasila dan bukan Islam. 

"Soekarno menyatakan bahwa Indonesia harus berdasarkan pancasila", bukan Islam. Sebagai jawaban atas tantangan ini kita harus membunuh Soekarno", intruksi Kartosoewirjo pada bawahanya. 


Dan percobaan percobaan pembunuhan yang paling terkenang sampai saat ini adalah peristiwa Cikini dimana mobil Soekarno dilempar granat dan ada juga penembakan saat Soekarno tengah shalat Idul Adha di Istana Negara. Dan untung saja Soekarno lolos dari ancaman itu. 

Akhirnys perlawanan Kartosoewirjo berakhir pada tanggal 4 Desember 1962,ia ditangkap di Gunung Geber Jawa Barat, tiga bulan setelah ditangkap ia di eksekusi. Pasukan yang berhasil menangkap Kartosoewirjo adalah Kompi C Batalyon 328 Kujang II/Siliwangi dipimpim Letnan Dua Suhada. 

Dan berakhirlah perjuangan Kartosoewirjo dan pengikutnya setelah 13 tahun berjuang dengan DI/TII. Imam besar DI/TII ini dijatuhi hukuman mati di sebuah pulau sunyi di Kepulauan Seribu. Dan puluhan tahun kemudian tepatnya pada 2012 foto foto eksekusi mati Kartosoewirjo terungkap. Sementara pihak keluarga Kartosoewirjo mengaku sudah menerima dengan ikhlas takdir itu. Mereka bersyukur akhirnya kejelasan soal nasib ayah mereka terbuka secara terang benerang walaupun menyakitkan. 



(Singgih Satriani) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar