Jumat, 23 Agustus 2019

Ini alasan Gusdur mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua.


Satrianinewsmedia, 

   Presiden ke empat Indonesia KH Abdulrahman Wahid alias Gusdur tak kuasa dilepaskan dalam memberikan spirit kemanusiaan di tanah Papua agar terbebas dari diskrimanasi,Marjinalisasi dan krisis disegala bidang. 

Seperti dilansir NU Online 19/8, Seorang santri Gusdur asal Kudus bernama Nurudin Hidayat menyatakan pada tanggal 30 Desember 1999 atau 2 bulan 10 hari setelah dilantik menjadi Presiden, Gusdur berkunjung ke Papua (saat itu Irian Jaya). Lawatan Gusdur bukan tanpa alasan. 

Ada dua tujuan dalam kunjungan tersebut. Pertama berdialog dengan berbagai Elemen Papua, Kedua melihat matahari pertama di melenium ke dua pada 1 Januari 2000.

Persamuhan dengan berbagai elemen digelar pada 30 Desember 1999 jam 20.00 waktu setempat. Lokasinya di gedung pertemuan Gubernur di Jayapura. Mesti dengan cara perwakilan, banyak sekali yang datang karena pengamanan tidak ketat. 


Gusdur mempersilahkan mereka berbicara terlebih dulu. Mereka angkat suara dari yang sangat keras dengan tuntutan merdeka dan tak mempercayai lagi pemerintah Indonesia hingga yang memuji tapi dengan berbagai tuntutan. 

Kemudian Gusdur merespon mereka, banyak hal ditanggapi. Tapi yang penting ini, Gusdur mengatakan "Saya akan mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua, Alasannya?", Gusdur lantas melanjutkan "ke dua dalam tradisi orang jawa kalau memiliki anak sakit sakitan sang anak akan diganti namanya supaya berubah, biasanya sih namanya Slamet, tapi sekarang Irian Jaya saya ganti dengan Papua" kata Gusdur. 

Seorang Antropolog bahasa Melanesia mencari asal usul kata irian yang diceritakan Gusdur, tapi tidak pernah menemukannya (Kalau tidak ketemu, bukan berarti tidak ada kan? Ini benar benar cara Gusdur memecahkan masalah rumit dan besar seperti masalah Papua dengan Humor) 

Sohibul Riwayah, Ahmad Suaedy menduga mengapa Gusdur menyatakan menggunakan alasan bahasa Arab dan tradisi jawa. Gusdur mencoba 'menenangkan' hati orang orang Islam dan orang orang jawa yang berpotensi melakukan protes. 


Selain hormat dengan teladan, Prinsip dan keberanian Gusdur, Manuel Kaisiepo  (Menteri Negara Percepatan Kawasan Timur Indonesia)  era Presiden megawati , pada 2017 memiliki cerita, ia mengisahkan ketika kongres rakyat Papua akan diselenggarakan, Gusdur menyetujui kongres tersebut. 

Ketika kongres itu mau diadakan semua orang protes. Itu separatis. Tetapi Gusdur menyetujui kongres itu diadakan. Bahkan Gusdur juga akan membantu terselenggaranya acara kongres tersebut. Yaitu dengan memberikan bantuan pendanaan. 

Ini langkah Gusdur yang dianggapnya nyeleneh, lain daripada yang lain. Saat Gusdur menemui kelompok pro kemerdakaan tersebut, banyak orang yang protes dan mengapa Gusdur menyetujui keberadaan mereka. Gusdur mengatakan bahwa semua yang ada di Papua adalah saudara dirinya, saudara sebangsa dan sesama Manusia. 







Sumber : NU Online

Editor : Singgih Satriani 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar