Satrianinews,Papua Nugini
Petugas keamanan Papua Nugini memperketat penjagaan di wilayah terbunuh nya 24 warga dalam perang antar suku di Provinsi HELA pada pekan lalu. Selain meredam Ekskalasi, pengetatan penjagaan ini juga untuk menghadirkan rasa aman warga yang mengalami trauma akibat kejadian pekan lalu. Para korban mayoritas Perempuan dan anak anak, dibunuh lalu di mutilasi sebagai aksi balas dendam atas pembunuhan sebelumnya. Kedua kelompok suku ini diketahui sudah berperang selama puluhan tahun. Namun pembunuhan terhadap 24 warga pekan lalu membuka kembali konflik yang telah lama meredam.
Menteri Kepolisian Papua Nugini Bryan Kramer mengatakan intervensi kekuatan diperlukan di HELA untuk mencegah serangan terbaru. " Pembunuhan tanpa ampun pekan lalu telah mengubah segalanya",kata Kramer dalam pernyataannya di Facebook dikutip dari AFP (15/7).Kramer mengatakan konflik ini bermula saat pembunuhan seorang anggota suku pada bulan Juni lalu yang memicu pembantaian terhadap perempuan dan anak anak.Dia menggambarkan penyerangan itu sebagai pembalasan terburuk dalam sejarah Papua Nugini.
Satu peleton pasukan dan satu regu kepolisian ditempatkan di SD setempat.pihak berwenang juga menggunakan Drone dan Satelit,penggunaan untuk melacak para pelaku yang melarikan diri. Selain itu dia juga meminta warga agar direlokasi sehingga terhindar dari sasaran kekerasan mengerikan. " Saya meminta kepada pemerintah provinsi untuk membawa kami ke daerah netral, mengapa pembunuhan ini terus terjadi? Kami, 500 penduduk desa yang tersisa harus dipindah karena kami tidak akan tinggal disini",kata Kramer.
Pembantaian tersebut tak hanya mengejutkan publik Papua Nugini,Namun Juga Perdana Menteri James Marape. Pasalnya provinsi HELA merupakan daerah pemilihanya termasuk distrik tempat pembunuhan terjadi.Marape bersumpah menemukan para pembunuh dan menjatuhi mereka dengan hukuman mati.
Singgih Satriani



Tidak ada komentar:
Posting Komentar